Tradisi Surak Iyo Desa Randuagung Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik






Foto Umi Hany Akasah
Dilestarikan : Para warga dan anak-anak sedang berkeliling dari rumah ke rumah mengikuti tradisi Surak Iyo di Dusun Randuboyo, Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jum’at (21/6).


Tradisi Surak Iyo,


Entah mengapa dari kecil saya paling suka nulis tentang sebuah budaya, tradisi hingga sosok pejuang. Mungkin karena ayah dulu sering mengajak saya melihat pesta budaya dan tradisi di Lumajang. Setiap akhir pekan, saya diajak ayah naik sepeda ontel ke Radio Semeru Lumajang. Di Radio Semeru yang lokasinya dekat Alon-Alon itu, saya digendong di pundak ayah supaya bisa melihat Ludrukan dan Kartoloan.

Setiap kali libur sekolah juga demikian. Saya selalu dipulangkan ke rumah nenek, di Sumberejo. Dulu, Sumberejo sebuah desa kecil di Lumajang, namun kini sudah mudah dijangkau karena dilintasi jalur lintas tengah (JLT).  Budaya dan tradisi ngaji sangat kental di Sumberejo. Misalnya membaca kitab kuning sampai menepatkan mahrajul huruf Alquran. Di Sumberejo saya mulai mengenal dan mencintai yang namanya budaya dan tradisi. Setiap ada kawinan maupun sunatan, warga sekitar meramaikan dengan tradisi Banyuwangian, Reok Ponorogo, Jaranan dan Kuda Lumping.  Itu mengakar dalam jiwa. Setiap kali ada momen/pentas seni budaya di Surabaya, saya benar-benar mengikuti dan menikmati sampai tuntas.  

Kini, menjadi warga Gresik saya menemukan budaya dan tradisi unik. Meski tidak ada di Lumajang, namun bagi saya yang namanya budaya dan tradisi harus tetap dipertahankan dan dijaga.

Hari ketujuh bulan Syawal merupakan puncak Lebaran yang ditunggu-tunggu beberapa warga di Kabupaten Gresik.  Seperti halnya, warga di kawasan Dusun Randuboyo, Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas. Warga meramaikan Lebaran yang sering disebut Rioyo Kupat dengan tradisi Surak Iyo.

Mulai pukul 06.00, anak-anak mengikuti tradisi yang digelar secara turun menurun itu. Dalam tradisi tersebut, anak-anak membawa wadah dan berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka kompak menyanyikan lagu khas Surak Iyo. Bunyinya seperti surak iyo pager jaro kembang gubis, Uqi ojo nangis-nangis nek nangis dikemplang linggis, surak iyo pager jaro kembang dara, Uqi ojo lara-lara nek lara oleho tamba, surak yo pager jaro kembang pacar, nek mari podo buyar.

Tradisi Surak Iyo bukan sekadar menjadi kebahagian buat anak-anak di desa tersebut. Selain mendapatkan bagi-bagi makanan berupa lontong,  ketupat, sayur, lepet, opor ayam, mereka juga senang karena penghuni membagikan uang. Bagi saya ini sangat penting. Seperti ayah yang berusaha menjadikan saya manusia yang cinta budaya dan tradisi, saya pun berusaha demikian pada putri-putra tercinta, Najma Ayucha Khairani-Aufar Marzuqi Ilmi. Saya rela bangun pagi hanya untuk mengantar kedua buah hari untuk ikut Surak Iyo dan ikut menyantap menu kupatan di rumah neneknya. Mungkin beda  dengan di Lumajang. Kalau di Lumajang, saya tidak perlu keluar rumah untuk makan kupat lontong. Sebab, di rumah sudah seabrek  makanan yang ada di meja dapur. Murid dan  saudara ayah terbiasa mengirim kupatan ke rumah. Saking banyaknya, ibu membagikan makanan hantaran itu ke seluruh tetangga kampung (maklum anaknya guru ngaji kampung bendino akeh berkatan,hehehe).

Tidak hanya di Dusun Randuboyo, tradisi Rioyo Kupat juga digelar di beberapa desa di Gresik. Di Desa Suci misalnya. Warga menggelar tradisi Udik-udikan atau berebut uang receh yang dibagikan penghuni rumah. Di desa lainnya juga tidak kalah ramai, seperti di Desa Kauman yang menggelar kegiatan berkunjung antar tetangga. Baik yang NU, Muhammadiyah, non muslim, Arab semua turut berbaur dan berbahagia dengan budaya dan tradisi itu.

Benar kata ayah, “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah”. Artinya, jagalah tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi modern yang lebih baik. Upaya-upaya yang dimaksud mengembangkan sejumlah khazanah Keislaman dan kebudayaan yang toleran serta terbuka dengan zaman kekinian.
Selamat Rioyo Kupat.


Umi Hanik Akasah


Gresik, 21 Juni 2018

KIsah Suami Sakit Hati Karena Biaya Susu Anak

Istri Minta Uang Susu Anak Rp 6 Juta Per Bulan

Setelah anaknya berusia setahun, Donwori, 33, baru mempersilakan istri dan anaknya untuk menjenguk mertuanya di Palu, Sulawesi Selatan. Meski demikian, Donwori tetap rutin mengirim uang untuk keperluan anak dan istrinya sebut Karin, 32, sebesar Rp 10 juta per bulan.

Umi Hany Akasah
Wartawan Radar Surabaya


Dana Rp 10 juta itu digunakan untuk berbagai keperluan. Sebesar Rp 6 juta untuk susu, Rp 600 ribu dibuat beli popok anak, untuk baju dan keperluan anak lainnya Rp 1 juta. Sisanya, Rp 2,4 juta untuk keperluan istrinya di Palu.

”Di sana hanya setahun kok. Soalnya mertua ingin ngemong cucunya, saya sih enggak masalah istri untuk sementara tinggal di sana, bikin tekor,” kata Donwori di sela-sela sidang talak cerai di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Senin (12/6).

Bersama pengacaranya, Donwori mengaku bukan masalah jumlah pengiriman uangnya kepada Sephia. Namun, ia mulai ragu dengan biaya susu istrinya yang mencapai Rp 6 juta. ”Sudah enam bulan di Palu. Dari lahir procot sudah minta jatah uang Rp 6 juta sih, no problem. Tapi, setelah saya banyak diskusi dengan teman-teman yang punya anak, kok habis susunya enggak sampai segitu,” kata Donwori.

Donwori mulai tidak percaya dengan istrinya saat dia sering berdikusi dengan biaya susu dengan rekannya. Ada temannya yang punya dua anak kembar dan seusia dengan anaknya, susunya pun merek sama dengan kualitas platinum, hanya menghabiskan Rp 4 juta per bulan. Jumlah itu sudah dengan popok dan kebutuhan lainnya, seperti barang perawatan bayi mulai sabun mandi, minyak telon, bedak dan sebagainya.
Rekan teman lainnya juga merasa demikian. Dua sampai tiga anak dengan merek susu yang sama tidak sampai menghabiskan Rp 5 juta.

”Saya bukan masalah besaran duitnya, tapi jangan coba coba bohongin suami. Itu saja,” kata pria yang bekerja sebagai konsultan keuangan tersebut.

Sementara itu, Sephia yang turut hadir dalam sidang talak cerai membuktikan jika uang Rp 6 juta memang dihabiskan untuk beli susu. ”Saya bawa struk pembelanjaannya. Saya enggak yakin kalau suami itu marah gara-gara susu anak, mungkin dia sudah punya wanita lainnya. Apalagi, sudah saya tinggal beberapa bulan di Palu,” kata Sephia.

Ibu satu ini tidak gentar dengan talak cerai yang diajukan oleh suaminya. ”Saya juga sewa pengacara, kalau dia sampai macam-macam sama, saya usir dia dari rumah. Bahkan, dia tidak akan saya pertemukan dengan putri saya,” ancam Sephia.(*)

Menelusuri Monumen Tugu Pahlawan (1-3 Edisi)


                          Monumen Tugu Pahlawan  di Surabaya



Dibangun untuk Mengenang Perjuangan Arek-arek Suroboyo

Tugu Pahlawan adalah sebuah monumen bersejarah sekaligus kebanggaan Kota Surabaya. Menjadi titik nol atau berada di tengah kota Surabaya, Tugu Pahlawan selalu menjadi daya tarik para wisatawan lokal bahkan asing untuk berkunjung.

 Hany Akasah
--- 
Berdiri di atas tanah lapang seluas 1,3 hektar, Monumen Tugu Pahlawan dan secara administratif berada di wilayah Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan. Tugu Pahlawan mempunyai tinggi mencapai 41,13 meter. Tugu itu makin terlihat megah degan bentuk lingga atau paku terbalik.
Pakar cagar budaya Surabaya, Freddy H Istanto mengatakan, tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan atau canalures dengan 10 lengkungan. Masing-masing lengkungan terbagi atas 11 ruas.
”Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945,” kata Freddy.
Tugu Pahlawan terletak persis di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektar, yang dulunya adalah Kantor Raad Van Justititie atau Gedung Pengadilan Tinggi pada masa penjajahan Belanda.
Menurut Freddy, tujuan pembangunan Tugu Pahlawan adalah tak lain untuk mengenang sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo sekaligus seluruh masyarakat Indonesia yang ikut serta dalam mempertahankan kemerdekaan dalam momen bersejarah 10 Nopember 1945 di Surabaya. 
”Ada dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa sekaligus arsitek Monumen Tugu Pahlawan Surabaya,” jelasnya.
Awalnya, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya. Kemudian ia meminta Ir Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.
Sedangkan sejarah lain menyatakan pemrakarsa monumen ini adalah Ir Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Wali Kota Surabaya, Doel Arnowo. Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir R Soeratmoko, yang mengalahkan beberapa arsitektur lain dalam sayembara pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.

Pada awalnya pekerjaan pembangunan Monumen Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya sendiri. Kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja. Monumen yang dibangun selama sepuluh bulan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1952. (1)

-----------------------------------------------------------

Pintu Masuk Gerbang Utama Simbolkan Tanggal dan Tahun Kemerdekaan RI 


Monumen Tugu Pahlawan dikelilingi oleh bangunan pagar tembok yang menjulang tinggi yang melingkari Tugu Pahlawan. Pagar tersebut menutup sebagian pemandangan bagi warga atau pengguna kendaraan bermotor melintas di sekitar lokasi Tugu 

 Hany Akasah


Pagar tinggi ini berguna untuk mengurangi kebisingan sebagai penghalang suara-suara dari luar (kendaraan bermotor) yang masuk ke dalam museum untuk memberikan rasa kenyamanan kepada pengunjung melihat Tugu Pahlawan.
“Pagar itu berfungsi untuk melindungi Tugu Pahlawan,” kata pengamat sejarah Freddy H Istanto.
Dari luar, pintu masuk gerbang utama diwujudkan dengan Candi Bentar yang tingginya mencapai 4,5 meter dan bentangan lebar 1,7 meter. Angka tersebut menyimbolkan tanggal dan tahun kemerdekaan Indonesia.
Terdapat juga pintu pagar sebelah timur dan barat Tugu Pahlawan sehingga akses untuk masuk dan keluar monumen ini menjadi mudah karena lebih dari satu pintu. Hanya saja, pagar barat dan timur ini hanya dibuka pada saat-saat tertentu. Pagar ini menunjukkan rancangan arsitektur khas Jawa kontemporer koloni.
Di sekeliling Monumen Tugu Pahlawan terdapat taman asri yang mengakomodasi pengunjung dalam estetika dan fungsional Tugu Pahlawan. Yang terdiri dari jalur pedestrian, bangku, tiga patung tokoh utama Surabaya dalam perjuangan melawan penjajah, yakni Gubernur Suryo, Wali Kota Surabaya Doel Arnowo, dan tokoh pejuang Bung Tomo. Replika mobil perang dan tanaman estetika. Di kiri dan kanan jalan tersebut akan terlihat sejumlah relief yang menggambarkan pertempuran 10 November.
Monumen Tugu Pahlawan ini mempunyai ciri-ciri yang khusus. Arsitektur dan dimensinya penuh mengandung lambang-lambang dan kias khas Indonesia. Material yang digunakan pada bangunan Tugu Pahlawan Surabaya berbeda-beda, bagian pintu masuk dari Tugu Pahlawan Surabaya dimana pada area tersebut terdapat pilar-pilar yang cukup tinggi dan tepat di depan pilar tersebut terdapat patung proklamator yang sedang membacakan teks proklamasi, lantainya diperkeras dengan material yang cukup halus. Di sekitar jalan taman, material lantai yang digunakan relatif kasar dan ditanami beberapa pohon, karena ruang luar yang cukup luas. Jalan ini merupakan area pejalan kaki untuk menuju ke Museum Tugu Pahlawan. Bagian samping atas dari museum Tugu Pahlawan Surabaya. Tampak terlihat jelas material lantainya diperkeras dengan material yang cukup halus. Dan pada bagian belakang atas dari museum Tugu Pahlawan Surabaya tersebut material lantainya relatif kasar yaitu batu paving.(2)

---------------------------------------------------------------

Melihat Kisah Peperangan Surabaya dalam Museum 10 November

Di kawasan Monumen Tugu Pahlawan ada sebuah museum berbentuk piramida-piramida kecil yang menyimpan benda-benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan arek-arek Suroboyo. Selain menjadi memberikan gambaran mengenai pertempuran 10 November 1945, museum tersebut juga menjadi lokasi studi sejarah bagi para pelajar.

 Hany Akasah


Museum ini dibangun di bawah tanah area Monumen Tugu Pahlawan sedalam 7 meter. Banyak orang yang mengenalnya dengan sebutan Museum 10 November. Pakar cagar budaya Surabaya, Freddy H Istanto mengatakan, museum ini sengaja dibuat untuk mengenal jasa perjuangan para pahlawan.
“Memasuki museum ini pengunjung akan terbawa ke masa pertempuran,” kata Freddy.
Bentuk gedung sengaja dibangun di bawah permukaan tanah agar ketinggian bangunannya tidak menghalangi sosok MonumenTugu Pahlawan. Terdapat kolam air dengan tanaman teratai yang  mengelilingi bangunan museum. Hal itu membuat suasana museum makin terasa berada di lokasi yang cukup tenang dan alami.
Untuk memasuki museum, pengunjung harus menuruni tangga. Di samping kanan kiri tangga terdapat hiasan relief yang cukup besar dan panjang menghiasi dinding museum. Relief itu berwarna tembaga yang adegannya berkisah tentang pertempuran antara para pejuang Surabaya dengan tentara Sekutu pada November 1945 di kawasan sekitar monumen ini.
Ketika memasuki bagian utama museum, para pengunjung disuguhi selasar yang memajang lukisan karya anak-anak. Baru setelah memasuki ruangan utama museum.  Pada lantai satu, khususnya  di bagian tengahnya terdapat monumen yang menampilkan ekspresi beberapa pejuang ketika berada di medan pertempuran. Ada yang membawa bambu runcing, ada yang membawa bendera dan senapan.
Di dalam museum terdapat benda-benda koleksi berupa memorabilia dari pahlawan Nasional HR Muhammad. Ada pula patung peraga yang menggambarkan suasana warga di Kota Surabaya saat mendengarkan siaran radio yang berisi kobaran semangat Bung Tomo untuk melawandan menolak ultimatum dari tentara Sekutu. Adapula beberapa foto lama tentang Kota Surabaya di masa perjuangan.
Selain itu juga terdapat ruangan yang berisi empat diorama yang adegannya menceritakan berbagai peristiwa sejarah dan perjuangan bangsa.  Peristiwa yang ditampilkan pada diorama terjadi pada tahun 1945.
Penjaga Tugu Pahlawan, Muzakki mengatakan, para pengunjung selalu hadir setiap saat. “Tidak hanya wisatawan dalam negeri, akan tetapi juga luar negeri,” tandasnya. (3)          

Kisah Nyata : Program Hamil Habiskan Ratusan Juta, Suami Akhirnya Hamili Adik Ipar

Utang Ratusan Juta Demi Program Kehamilan

Donjuan akhirnya bisa bernapas lega. Sang istri, Karin mau kembali di pelukannya. Meski sempat berkhianat, PNS itu pun mengaku tak bisa berpisah dengan istrinya.

Hany Akasah
----

Rasa penyesalan Donjuan ia sampaikan di hadapan keluarga dan Karin. Di situ, Donjuan rela dijambak dan dipukul oleh Karin dan keluarganya. Donjuan hanya tertunduk tanpa berucap. Ia hanya mengatakan kata 'sepurane' dan 'maaf' pada Karin dan orang tuanya.
Dalam kondisi tertekan, Donjuan mengaku nekat berhubungan dengan adik iparnya Sephia karena sudah lelah dengan sikap Karin yang keras. Karin tak pernah mau mengadopsi anak. Padahal, kakak kandung Donjuan dan saudara-saudaranya banyak yang menawarkan anaknya untuk diadopsi.
"Ya Tuhan ma aku juga enggak ingin. Tapi, aku sudah ingin punya anak banyak. Aku frustrasi gara-gara belum punya anak," kata Donjuan.
Tak hanya sangat menginginkan anak, Donjuan juga stres karena harta warisan dari orang tua dan hasil kerjanya habis untuk program kehamilan. Dari mulai program bayi tabung, inseminasi sampai ke klinik herbal kehamilan dengan harga yang mahal. Program tak hanya dilakukan di Indonesia, juga di luar negeri seperti Singapura dan Australia. "Dihitung-hitung hampir habis lebih Rp 400 juta lebih. Saya pikir masak uang habis, tanpa hasil," kata Donjuan.
Sementara itu, Karin tetap dengan pendiriannya yang tidak mau mengadopsi anak. Sampai akhirnya, Donjuan tak sengaja melihat Sephia tersenyum. "Adik istri juga sering WA (WhatApp). Laki laki mana yang tidak tergoda," kata dia.
Donjuan menyatakan, awalnya berusaha tidak terpikat dengan Sephia. Sebab, Donjuan mengetahui sendiri bila adik iparnya itu sudah punya pacar. Namun, justru Sephia yang suka mengajak Donjuan keluar untuk nonton bioskop atau sekedar jalan-jalan. Kedekatan itu berlangsung hampir setahun lamanya."Ngajak ke hotel. Khilaf satu kali dan ending-nya hamil," tandasnya.
Dalam hati Donjuan, ia begitu bahagia bila ia akan memiliki anak dengan upaya normal tanpa biaya. Di sisi lain, ia juga takut bila Karin marah. Satu sampai empat bulan Donjuan dan Sephia berhasil menyembunyikan rahasia itu. Karena Donjuan memang ingin anak itu lahir. Meski Sephia sempat menawarkan untuk menggugurkan anaknya.
"Ya namanya bangkai pasti tercium. Apes gue," katanya tertawa. Hingga akhirnya, Karin mengajukan gugatan cerai akhir Desember 2016 lalu."Sudahlah sekarang saya tidak mau ruwet. Yang penting Karin gagalkan gugatan cerai dan saya juga dapat anak," kata Donjuan sumringah. 


dI Saat, Donjuan hanya bisa menunduk malu saat keluarga besar mengadilinya. Ia juga hanya terdiam saat sang istri, Karin, akan mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya pada akhir Desember 2016 lalu.
Padahal, Karin juga tak kalah sedihnya. Perempuan yang tinggal di kawasan Waru, Sidoarjo, ini terus menangis tiada henti. Matanya sembab, wajahnya terus ditekuk dalam suasana murung.
"Jahat, koen iku mas," katanya mantap tanpa menoleh ke arah Donjuan. Ia hanya menunduk sambil menghapus air mata dan hidungnya dengan tisu yang sejak dari tadi dipegangnya.
Karin sudah 15 tahun menikah dengan Donjuan. Tapi, mereka belum dikaruniai anak. Meski demikian, Karin yang berprofesi sebagai PNS tak menyangka bila suaminya tega menghamili Sephia, adik kandungnya.
Meski sudah lama dia merasakan firasat Donjuan yang ingin berpoligami, tapi ia tetap tak menyangka kalau yang dipoligami adalah adiknya sendiri. "Suami memang ngaku kalau semua uangnya habis untuk program hamil saya. Tapi mau gimana lagi, memang kami belum diberi rezeki (anak, Red)," ucap Karin.
Tiap bersanding di peraduan menjelang tidur, Karin mengaku Donjuan sering meminta izin kepadanya untuk menikah lagi. Jika tidak boleh, Donjuan ingin mengadopsi anak dari saudaranya. Tapi, semua permintaan Donjuan itu selalu ditolaknya. Karin bahkan mengancam akan minta cerai jika sampai Donjuan nekat mengadopsi anak. Apalagi sampai menikah lagi.
Saat antre mengajukan gugatan cerai di PA tersebut, ayah dan ibu Karin menghampirinya. Mereka memberi tiga pilihan kepada Karin yang semuanya cukup berat.
Pertama, jika Karin bercerai maka orangtuanya akan menikahkan Donjuan dengan Sephia. Kedua jika Karin bertahan atau tetap mau menjadi istri Donjuan, maka anak dalam rahim Sephia akan diambil dan diasuh Karin jika sudah lahir.
"Toh, anak itu juga keponakannya sendiri. Sama Donjuan juga satu muhrim," tandas orangtuanya. Sedangkan pilihan ketiga, Donjuan yang harus pergi meninggalkan Karin dan memutuskan hubungan dengan keluarga dan calon anak yang dikandung Sephia.
Mendengar ketiga pilihan itu memang cukup berat. Karin pun hanya bisa melongo dan menangis. Makin tragis, saat Sephia datang dan meminta maaf ke Karin sambil memegang pundaknya. Sephia pun menangis sejadi-jadinya. Ia meminta maaf karena tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan kondisi hamil dari kakak iparnya sendiri.
Karin pun hanya bisa menangis mendengar permintaan maaf sang adik. Dalam hati, ia tidak tega melihat adiknya yang baru mahasiswi semester satu itu terancam kuliahnya karena kini hamil empat bulan dengan suaminya. Ia makin sakit hati mendengar tiga pilihan yang sama-sama pahit untuk dipilih, yang ditawarkan orangtuanya.
Tak kuasa dengan semua tekanan yang datang kepada dirinya, Karin pun hanya bisa pamit dan kemudian meninggalkan kedua orangtua, suami, dan adiknya yang menurutnya masih tidak mengerti dengan perasaannya. Ternyata, dia pamit untuk salat ke musala yang ada di belakang gedung PA.
Hampir satu jam menunggu, ayah Karin kemudian menelepon dan mengajaknya untuk berunding di kantin. Kali ini, Karin pun hadir tapi dengan wajah yang lebih segar. Ia tidak murung lagi meski senyumnya masih terkesan dipaksakan, dan matanya masih tampak sembab.
"Iya, saya terima anaknya diadopsi saja. Tapi syaratnya, Sephia tidak boleh mengakui bayi itu anaknya. Nanti lahir langsung dibuatkan akta atas nama saya dan Mas Juan," katanya mantap.
Karin mengaku melakukan hal itu karena kasihan dengan adiknya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak mau berpisah dengan Donjuan. "Mas (Juan), awak dewe wes ket SMA pacaran. Soro karo seneng bareng-bareng. Tapi iki sing terakhir, jok diulangi maneh," ancam Karin kepada Donjuan, yang hanya bisa menatap wajah lembut istrinya itu dengan perasaan bersalah. (*)



Kisah Nyata : Demi Liburan, Suami Bule Super Pelit

Suami Bule Super Irit Demi Nabung untuk Liburan

Ingin hidup mewah bersama bule, Sephia, 35 akhirnya menikah dengan bule asal Italia pada Desember 2014. Tetapi, Oktober 2016 ia pulang ke Indonesia dan langsung menggugat cerai si suami, sebut Donjuan, 50, di Pengadilan Agama (PA), klas 1A Surabaya.

Hany Akasah
---------


Memasuki tahun kedua pernikahannya, Sephia tak mau lagi melanjutkan pernikahan. Ia memilih gugatan cerai gaib yang tidak ada si suami sebagai tergugat, Donjuan. Pemutusan hubungan sepihak itu dilakukan karena ia tak mau lagi hidup susah di negeri orang.
"Hidup di sana (Italia,Red) susah. Semua serba mahal. Belum lagi suami gajinya sedikit," kata Sephia. Karena suaminya hanya bekerja sebagai sebagai tukang sapu. Sephia sungguh sangat menyesal karena salah menilai dengan penampilan Donjuan. Seperti mengingat masa lalunya, wanita yang tinggal di kawasan Kapasan itulah yang menggoda Donjuan hingga kesengsem. Konon, perkenalan dimulai saat Sephia menjadi waiters di Bali. Waktu itu, Donjuan sedang berlibur di Bali. Dalam benak Sephia, Donjuan sudah tua dan gagah. Maka ia menganggap Donjuan sudah mapan di negerinya.

Dari pengalaman Sephia yang bertahun-tahun menjadi waiters dan tinggal di Bali, Sephia menyimpulkan bule yang berlibur ada beberapa tipe. Tipe yang pertama adalah bule miskin namun nabung untuk liburan di Bali. Pulau dewata dianggap tempat berlibur termurah di dunia dengan fasilitas dan alam indah yang ditawarkan.
Kedua bule kaya yang memang ingin menikmati Pulau Dewata tanpa lagi berpikir materi. Di situlah, Sephia menilai Donjuan tipe kedua. Karakter itu dinilai dari gaya Donjuan yang tidak pernah perhitungan ketika belanja dan membeli makan dan minuman. "Suami juga suka destinasi ke mana-mana. Saya lihat di FB-nya. Dari Hawai, Thailand, Jepang dan lainnya," jelasnya.
Makanya itu, Sephia ngebet nikah denga Donjuan. Mereka pun akhirnya menikah dengan Donjuan. "Ya tak suruh masuk Islam,"ujarnya. Sebulan menikah, Sephia ikut Donjuan ke Italia. Harapnya sih, Sephia bisa hidup bahagia dan bisa jalan-jalan keliling dunia. Sayang, yang ia bayangkan tak semulus harapannya. Di Italia, ia harus melihat begitu sulitnya pekerjaan suami. Donjuan bekerja jadi tukang sapu fasilitas umum. "Saya stres minta ampun karena suami itu bener-bener pelit. Alasannya uang ditabung untuk jalan-jalan nanti," jelasnya.

Imbasnya, selama dua tahun, Sephia dan Donjuan seringkali puasa supaya uangnya terkumpul guna foya-foya di tempat liburan. "Sengsara benar pokoknya," katanya. (*)