Kamis, 25 Oktober 2012

Lifestyle Sedentary bikin Kegemukan

Gizi pada anak obesitas 1

Lifestyle Sedentary bikin Kegemukan

Masalah kegemukan atau obesitas merupakan suatu masalah yang cukup merisaukan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dengan melihat  gaya hidup anak sekarang, menjadikan obesitas penyakit yang perlu diwaspadai semua orang.


Indonesia sebagai negara berkembang kini dihadapkan pada persoalan beban ganda (double burden), dimana satu sisi masalah anak kurang nutrisi masih banyak terjadi, namun di sisi lain jumlah anak dengan obesitas juga kian meningkat. Akan tetapi kesadaran seperti ini belum menjadi perhatian sebagian besar penduduk Indonesia. Kebanggaan memiliki anak berbadan gemuk masih mengakar di benak sebagian orang tua. Padahal, obesitas memiliki pengaruh buruk tidak hanya di sisi pertumbuhan anak, tetapi juga pada perkembangan psikologis mereka. World Health Organization (WHO) menyatakan obesitas atau kegemukan adalah penyakit yang terlihat.
Dr Hidayat Wiriantono, Sp GK DFN, Spesialis Gizi Klinik RSAH memaparkan hampir 90 persen masalah kegemukan  yang terjadi pada anak-anak dikarenakan adanya ketidakseimbangan antara jumlah kalori masuk atau intake kalori dengan yang dikeluarkan  atau output. “Obesitas pada anak merupakan permasalahan multifaktorial yang terutama disebabkan oleh asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan harian mereka,” katanya. Hal ini berkaitan dengan pola makan yang berlebih dan jenis makanan yang dikonsumsi mengandung kalori yang tinggi.  Misalnya saja, jenis makanan olahan serba instan, minuman soft drink, makanan jajanan seperti makanan cepat saji (burger, pizza, hot dog) dan makanan siap saji lainnya yang tersedia di gerai makanan. “Ngemil dan snak-snak dan minuman manis,” cetusnya.
Selain itu, gaya hidup yang malas (sedentary lifestyle) dan minimnya aktivitas fisik sehari-hari juga menjadi penyebab utama obesitas pada anak. Meskipun demikian, faktor genetik, hormonal dan kondisi sosio-ekonomi keluarga dan lingkungan juga turut mempengaruhi, demikian juga dengan efek perawatan medis, meskipun kejadiannya cukup langka. Akan tetapi, faktor diet dan sedentary lifestyle masih menjadi penyebab utama.
Pola asuh orang tua semenjak usia dini berkaitan sangat erat dengan penyebab utama obesitas pada anak. Hal ini berhubungan karena pendidikan dan pengajaran orang tua adalah informasi awal bagi anak usia dini untuk mulai menerapkan kebiasaan hidup mereka, termasuk kebiasaan makan dan beraktivitas. Pola asuh yang bersifat permisif sesuai definisi Baumrid (1967) adalah pola yang paling rentan dengan hal tersebut. Orang tua yang memiliki pola asuh demikian akan memberikan kesempatan bagi anak untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup. Mereka cenderung untuk tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya. Bimbingan yang diberikan juga sedikit. Orang tua dengan pola asuh demikian akan memenuhi segala permintaan sang anak sehingga mereka terlihat hangat dan disukai oleh anak.
Pola asuh permisif yang diterapkan orang tua kepada anak akan mendidik anak untuk menjadi manja dan cenderung mendikte orang tua. Kebiasaan ini juga akan berpengaruh pada pola makan sehari-hari. Anak akan bebas memilih makanan sesuai dengan keinginannya, sehingga resiko anak untuk mengonsumsi makanan serba enak yang cenderung tinggi kalori akan lebih tinggi. Hal ini diperparah dengan maraknya penyediaan makanan cepat dan siap saji tinggi kalori di pasaran dewasa ini. Apalagi jika orang tua berasumsi bahwa memiliki anak yang lahap dan berbadan gemuk adalah suatu prestasi yang layak dibanggakan. Apabila hal tersebut tidak diikuti dengan penetapan waktu makan yang terjadwal dan teratur, maka dikhawatirkan anak akan mengonsumsi lebih banyak kalori dari pada yang dibutuhkan.Selain pola makan, pola asuh yang permisif juga akan mempengaruhi kebiasaan anak dalam beraktivitas. Kurangnya peranan orang tua untuk membatasi kebiasaan atau malas bergerak pada anak misalnya menonton televisi ataupun bermain game di depan komputer berjam-jam akan mengurangi kesempatan anak untuk bergerak dengan bebas. Akibatnya kalori yang ada di dalam tubuh tidak dibakar menjadi energi sehingga disimpan menjadi cadangan lemak tubuh. Jika hal ini telah menjadi rutinitas, maka akan terjadi penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh yang berujung kepada obesitas.
Obesitas sangat berdampak buruk bagi kesehatan anak. Anak yang mengalami obesitas akan beresiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa. Implikasi klinis lainnya yang menghawatirkan adalah meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus, serta penyakit-penyakit terkait gangguan metabolik seperti resistensi insulin dan dislipidemia. Resiko lainnya adalah terjadinya abnormalitas fungsi sistem organ seperti respirologi (sesak nafas), neurologi, muskuloskeletal, dan hepatologi. “Penyakit-penyakit semacam itu tentu akan menurunkan kualitas hidup anak dan akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan fisik anak,”  katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar